BRIMO BRIMO BRIMO BRIMO

Gunungan 2.000 Ton Sampah Bom Waktu di TPA Galuga yang Makliat Mengintai

Gunungan 2.000 Ton Sampah di Galuga: Bom Waktu Ekologis yang Mengintai Warga Bogor

Banjar Express- Setiap hari, tanpa henti, sebuah gunungan masalah terus membumbung tinggi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor. Lebih dari 2.000 ton sampah—setara dengan berat sekitar 1.300 mobil sedan—ditumpahkan di lokasi tersebut, menciptakan panorama suram yang bukan hanya merusak pemandangan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan publik. Tumpukan sampah ini telah berubah dari sekadar masalah kebersihan menjadi bom waktu ekologis yang nyata, yang detaknya kian terdengar jelas.

Gunungan 2.000 Ton Sampah Bom Waktu di TPA Galuga yang Makliat Mengintai
Gunungan 2.000 Ton Sampah Bom Waktu di TPA Galuga yang Makliat Mengintai

Baca Juga :  Wali Kota Banjar Menghadiri Gelaran Konser Merah Putih Tahun 2025

Klik Disini

Drama di TPA: Open Dumping dan Ancaman yang Merayap

Di jantung persoalan ini adalah metode open dumping atau pembuangan terbuka yang sudah sangat ketinggalan zaman. Sampah hanya ditumpuk dan dibiarkan membusuk di udara terbuka, tanpa pengelolaan yang memadai. Konsep primitif ini telah lama ditinggalkan oleh banyak negara dan daerah maju karena dampak buruknya yang masif.

“Realitanya, volume sampah yang masuk setiap hari tidak sebanding dengan kapasitas penanganan di Galuga. Jika tidak ada intervensi segera, ini akan meledak menjadi krisis lingkungan yang parah,” tegas Teuku Mulya, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, dalam sebuah paparan yang mengkhawatirkan di Gedung DPRD.

Dia menegaskan, open dumping sudah harus dihapuskan. “Praktik itu tidak diperkenankan lagi dan sangat berbahaya. Dampak kerusakan lingkungannya bersifat permanen dan akan dirasakan oleh generasi mendatang,” katanya memperingatkan. Ancaman terbesar berasal dari lindi (air sampah) yang meresap ke dalam tanah, mencemari air tanah, serta emisi gas metana yang mudah terbakar dan berkontribusi pada pemanasan global.

Peta Jalan Penyelamatan: Dari Sanitary Landfill hingga Revolusi di Hulu

Menyadari gentingnya situasi, Pemkab Bogor tidak tinggal diam. Sebagai langkah darurat, DLH mengusulkan tambahan anggaran senilai Rp17 miliar dalam perubahan APBD tahun ini. Dana ini akan dialokasikan untuk memulai proses transformasi Galuga dari open dumping menjadi sanitary landfill atau tempat pembuangan akhir yang memenuhi syarat kesehatan lingkungan.

Metode ini melibatkan pemasangan lapisan membran kedap air di dasar TPA untuk menjebak lindi agar tidak mencemari tanah, sistem pipa untuk mengelola gas metana, dan penutupan sampah dengan tanah setiap harinya. Proses yang rumit dan mahal ini ditargetkan dapat diselesaikan secara bertahap hingga tahun 2026.

Namun, Mulya dengan tegas menyatakan bahwa menutup Galuga dengan teknologi saja tidaklah cukup. “Akar masalahnya ada di hulu, pada budaya masyarakat dalam memperlakukan sampah. Selama kita tidak memilah, selama itu pula sampah akan menjadi monster yang mengancam,” ujarnya.

Oleh karena itu, peta jalan jangka panjang DLH jauh lebih ambisius. Pada tahun 2026, setiap desa dan kelurahan di Bogor ditargetkan memiliki bank sampah yang aktif. Selain itu, pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reuse-Reduce-Recycle (TPS3R) dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) menjadi prioritas. Fasilitas ini akan menyortir, mendaur ulang, dan mengkompos sampah dari sumbernya, sehingga hanya residu yang benar-benar tidak bisa terkelola yang berakhir di TPA. Dengan demikian, volume sampah yang masuk ke Galuga bisa dipangkas secara signifikan.

Jalan Buntu Nambo dan Perlunya Solidaritas Regional

“Kita terus melakukan lobi dan pendekatan persuasif, tetapi memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ini membutuhkan komitmen dan kerja sama yang kuat antartingkat pemerintahan,” kata Mulya, mengakui kompleksitas koordinasi yang dihadapi.

Artikel ini menggambarkan sebuah pertarungan melawan waktu. TPA Galuga adalah simbol dari kegagalan sistemik dalam pengelolaan sampah. Solusinya tidak bisa parsial, tetapi harus komprehensif: mulai dari revolusi kesadaran di tingkat rumah tangga, pembangunan infrastruktur yang modern, hingga sinergi yang solid antarpemerintah daerah. Jika tidak, bom waktu di Galuga bukan lagi sekadar metafora, melainkan sebuah bencana yang tinggal menunggu waktu untuk meledak.

Klik Disini